Kebijakan mengenai standar emisi Euro 4 membuat seluruh mobil produksi Oktober 2018 mengikuti aturan ini. Apesnya, bahan bakar yang sesuai dengan kebutuhan mesin berstandar Euro 4 saat ini hanyalah Pertamax Turbo. Mengapa?
Karena salah satu syarat untuk aman digunakan oleh mesin berstandar Euro 4 adalah bahan bakar yang memiliki kandungan Sulfur maksimal 50 ppm. Hampir semua bahan bakar bensin yang beredar di Indonesia memiliki kandungan Sulfur maksimal 500 ppm yang merupakan bahan bakar untuk standar mesin Euro 2. Sedangkan diesel, hanya PertaDEX yang memiliki kandungan Sulfur 300 ppm, DEXlite masih 1.200 ppm dan Bio Solar maksimal 2.500 ppm - meski diklaim saat ini sudah berada di angka 1.500 ppm akibat menggunakan campuran kelapa sawit pada Bio Solar sekarang.
Ada Apa Dengan Sulfur?
Salah satu menciptakan emisi rendah diperlukan proses pengabutan bahan bakar yang baik. Hal ini bertujuan agar campuran udara dengan bahan bakar dapat sehomogen mungkin sehingga lebih mudah terbakar. Untuk itulah diperlukan injektor dengan lubang yang sangat kecil agar bahan bakar lebih mudah berubah menjadi kabut.
Kebayang kan Sob, kalo lubang injektor yang sangat halus itu akan tersumbat oleh residu yang dihasilkan dari endapan kandungan Sulfur yang tinggi dalam bahan bakar. Proses suplai bahan bakar terganggu sehingga rentan membuat campuran bahan bakar dengan udara kian miskin alias lean. Suhu mesin pun akan lebih tinggi akibat kondisi seperti ini.
Untuk itu, pihak Pertamina pun tengah mengubah speksifikasi beberapa kilang minyaknya agar dapat menghasilkan bahan bakar dengan standar yang lebih baik. Bahkan akan langsung lompat ke bahan bakar Euro 5 yang memiliki kandungan Sulfur hanya 10 ppm saja.
Jika hal ini terjadi - ketersediaan bahan bakar dengan kualitas setara peruntukan mesin-mesin Euro 5 - secara otomatis alih teknologi modern pun kian deras ke pasar Indonesia. Tak ada lagi halangan dengan isu kualitas bahan bakar, jika spesifkasi BBM di Indonesia telah setara dengan mayoritas negara-negara maju.