Warga kota besar pasti sangat akrab dengan dua ‘mimpi buruk’ ini, jalanan macet dan cuaca panas. Enggak cuma bikin kepala cepat mendidih, tapi oli di mesin motor juga bisa ikut terpengaruh. Apalagi untuk yang biasa menggeber motor dalam frekuensi tinggi dan jarak cukup jauh.Muhammad Haris, Kepala Mekanik Bengkel Resmi Suzuki Jl. Panjang, Kebon Jeruk, Jakarta Barat, menyarankan ada baiknya penggantian oli tidak berpatokan pada angka 2.000 kilometer
Warga kota besar pasti sangat akrab dengan dua ‘mimpi buruk’ ini, jalanan macet dan cuaca panas. Enggak cuma bikin kepala cepat mendidih, tapi oli di mesin motor juga bisa ikut terpengaruh. Apalagi untuk yang biasa menggeber motor dalam frekuensi tinggi dan jarak cukup jauh.
Muhammad Haris, Kepala Mekanik Bengkel Resmi Suzuki Jl. Panjang, Kebon Jeruk, Jakarta Barat, menyarankan ada baiknya penggantian oli tidak berpatokan pada angka 2.000 kilometer seperti saran pabrikan.
"Panas dan macet membuat mesin bekerja ekstra keras. Ada baiknya penggantian oli tidak dilakukan tiap 2.000 kilometer, tapi di angka 1.500 kilometer. Karena kondisi jalan yang panas dan macet biasanya mempersingkat kualitas serta tidak bisa dihitung jaraknya. Apalagi mesin tetap hidup dalam kondisi macet dan panas," ujar Haris.
Senada dilontarkan Indra Nugroho, Kepala Mekanik Bengkel Resmi Honda Palmerah. Aplikasi oli dengan kekentalan 10W-40 bisa jadi alternatif untuk menjaga mesin tetap responsif. "Kondisi seperti sekarang sebaiknya menggunakan oli yang kekentalannya 10W-40," ujar Agus. Nah, untuk pilihan produknya, bisa menggunakan Master MCO 10W-40 JASO MA.
Teks: Tim AutochemIndustry
Sumber : Otomotifxtra.com, bikesindia.org