TIPS & TRIK
TIPS & TRIK
29-September-2025

TIPS MENGEMUDI MOBIL BONGSOR ATAU MOBIL BESAR SUPAYA TIDAK MENGAKIBATKAN KECELAKAAN DI JALAN TOL

Tentu Anda pernah bertemu dengan pengendara mobil besar atau bongsor di jalan tol yang berjalan seenaknya sendiri. Mulai dari ngebut, pindah lajur seenaknya, sampai melaju kencang di bahu jalan. Hingga akhirnya memicu kecelakaan fatal yang merenggut korban jiwa.

Patut diketahui, kendaraan besar seperti Big SUV dan Big MPV rata-rata sasisnya jenis ladder frame di mana bodi mobil diletakkan di atas sasis lalu disambungkan sehingga mobil lebih jangkung atau tinggi. Sehingga gejala limbung atau bouncing yang terjadi lebih besar.

Hal lain terkait terpaan angin, khususnya yang menerpa dari samping mobil. Karena dimensinya yang besar, angin dapat mendorong mobil. Kestabilan mobil yang kurang dan dorongan angin, dapat mempengaruhi handling dan bisa berakibat fatal jika Anda tidak sigap.

Setiap kendaraan ketika sudah bergerak maka suspensi akan bekerja menstabilkan gaya-gaya yang terjadi akibat kondisi eksternal dan internal. Tetapi ada batas toleransinya, yaitu kenyamanan. Artinya, ketika dikemudikan secara ekstrem, kendaraan tersebut jadi susah dikendalikan karena mudah limbung. 

Karena besar dan memakai ladder frame, otomatis mobil jenis ini lebih berat ketimbang jenis di bawahnya. Ditambah, rata-rata daya angkutnya juga 7-seater. Alhasil, butuh daya pengereman lebih besar dan lebih sulit berhenti dalam kondisi darurat. Ditambah, tenaganya biasanya terbilang besar dan torsinya sangat tinggi.

Tips Aman Mengemudi Mobil Besar

1. Bijaksana Saat Mengemudi 

Kendaraan jenis ini, terutama yang bermesin diesel modern, sangat bertenaga sehingga begitu menggoda untuk dipacu. Ingat, jalan raya merupakan sarana publik dan pengemudi wajib mematuhi aturan lalu lintas yang berlaku seperti batas kecepatan maksimal.

Perhatikan situasi, kondisi dan lokasi, serta jangan memacu mobil di jalan yang ramai atau sempit. 

2. Pahami Dimensi dan Potensi Blind Spot 

Pastikan Anda memahami mobil dengan dimensi besar membutuhkan ruang lebih ketika bermanuver, seperti ketika parkir, pindah lajur, atau balik arah. Termasuk membatasi daya pandang keluar sehingga membuat pengemudi harus ekstra waspada dan tidak bisa sembarangan bergerak karena potensi blind spot yang tinggi. 

3. Pelajari Karakter Kendaraan 

Anda wajib memahami karakter mobil bongsor yang dikendarai, mulai dari performa hingga pengendaliannya. Lonjakan tenaga yang besar dan tiba-tiba bisa menyulitkan jika gagal dikendalikan. Mobil ini juga butuh jarak pengereman lebih jauh karena bobot yang besar. 

Salah satu yang paling penting dan kerap dilupakan adalah potensi limbung akibat postur tubuhnya yang tinggi dan besar. Dengan begitu, Anda bisa lebih memahami cara mengemudikannya dengan bijak dan mengurangi risiko masalah. 

4. Jaga Emosi di Jalan 

Jangan melakukan manuver yang memicu emosi orang lain maupun terpicu emosi akibat orang lain melakukan pelanggaran. Kendalikan emosi agar situasi tetap terkendali dan tidak mengakibatkan masalah yang sebenarnya dapat dihindari. 

5. Pastikan Kondisi Mobil Selalu Prima 

Anda pasti imgin mobil dalam kondisi prima selama dikemudikan untuk mencegah masalah seperti mogok atau bahkan kecelakaan seperti rem mobil blong. Solusinya mudah, yaitu servis berkala di bengkel resmi atau langganan.

6. Hati-hati Jarak Pengereman

Mobil besar membutuhkan jarak pengereman yang lebih jauh, apalagi saat hujan atau jalanan basah. Oleh sebab itu, jangan melakukan pengereman mendadak yang bisa membahayakan dan memacunya terlalu kencang karena lebih sulit berhenti.

7. Patuhi Aturan Lalu Lintas

Biasanya mobil bongsor memiliki performa mesin yang mengundang keinginan untuk memacunya. Selain wajib diingat bahwa mobil ini lebih sulit dikendalikan lantaran mudah limbung, Anda juga harus patuh aturan lalu lintas seperti batas kecepatan maksimal dan dilarang mendahului lewat bahu jalan.

Gunakan Prestone Brake Fluid DOT 4 yang Cocok Untuk Mobil Listrik

Masalah umum rem mobil adalah vapor lock, yaitu kondisi di mana suhu cairan rem melewati batas maksimal karena digunakan secara terus-menerus dalam kondisi berat. Cairan rem yang mendidih akan menghasilkan uap air di dalam sistem pengereman sehingga mengganggu tekanan hidraulis dan menyebabkan injakan pedal rem terasa hampa.

Suhu cairan rem bisa mencapai 150–180 derajat Celcius ketika beroperasi. Masalahnya, cairan rem memiliki sifat higroskopis akibat mudah menyerap air dari udara. Air yang masuk ke dalam sistem pengereman dapat menurunkan titik didih cairan rem. Sebagai informasi, kontribusi air 3% di cairan rem akan menurunkan titik didih hingga sekitar 100 derajat Celcius.

Titik didih Prestone Brake Fluid DOT 4 sebagai standar untuk EV atau mobil listrik adalah 265 derajat Celcius (kondisi baru). Bermodalkan hasil riset yang panjang di Indonesia, cairan rem Prestone sanggup menjaga kadar air dalam batas aman sehingga titik didihnya tidak mudah turun.

Diproduksi untuk wilayah tropis, cairan rem berkualitas ini memiliki kadar air di bawah ambang batas yang ditetapkan oleh Standar Nasional Indonesia (SNI) yakni 0,3%. Bahkan, penurunan performa akibat iklim tropis yang mencapai kelembapan hingga 80% pada produk Prestone yang masih tersegel pun tidak terjadi. 

Hal ini jelas menguntungkan karena mereduksi potensi timbulnya karat akibat oksidasi di dalam sistem rem mobil listrik. Prestone turut memberikan perlindungan korosi untuk semua logam dalam sistem rem, cocok untuk rem cakram dan tromol, serta bersinergi dengan fitur-fitur penting seperti ABS dan regenerative brake system. 
 

Gatot Subroto KM 7 Jatake, Jati Uwung Tangerang, Banten 15136
+62(21)5900131
Sales[at]autochemindustry.com
Unicall 0-807-1-799-799

© Autochem Industry 2026. Maintained by kreasimaya. Hak cipta dilindungi oleh undang-undang.