Sebagian orang menahan tuas gas sambil ngerem ketika berada di tanjakan atau macet di jalanan yang menanjak, dengan tujuan agar sepeda motor tidak mundur. Namun kebiasaan ini ternyata berisiko serius bagi komponen transmisi CVT (Continuously Variable Transmission).
Kebiasaan tersebut justru menempatkan CVT bekerja di luar kondisi normal, sehingga komponen internal seperti kampas ganda, rumah kopling, dan v-belt mudah cepat aus bahkan rusak.
Untuk diketahui, sepeda motor matic dirancang agar tenaga dari mesin dapat dialirkan secara otomatis melalui sistem CVT mengikuti fungsi putaran mesin dan bukaan gas secara teratur.
Namun ketika gas dibuka tetapi roda tertahan oleh rem, kampas ganda yang berfungsi mencengkeram mangkuk kopling justru dipaksa untuk bekerja di kondisi tidak ideal.
Gesekan yang terjadi menjadi sangat kuat dan menghasilkan panas berlebih (overheat), sehingga kampas bisa cepat aus, permukaan mangkok kopling berubah bentuk, dan bahkan seal (seal kruk as) bisa bocor akibat suhu tinggi di area transmisi.
Dampak lain yang sering dirasakan oleh pengendara akibat kebiasaan itu adalah dengan munculnya gredek dimana sebuah kondisi tenaga motor terasa tersendat atau getar saat mulai bergerak, karena permukaan kampas ganda dan rumah kopling sudah tidak rata akibat gesekan yang intens.
Ini bukan cuma mengurangi kenyamanan berkendara, tetapi juga berarti biaya servis bisa meningkat karena komponen transmisi CVT harus diganti lebih cepat dari seharusnya.
Penyebab Komponen CVT Cepat Aus
Komponen CVT pada motor matic bekerja dengan prinsip memanfaatkan tenaga mesin melalui kampas ganda, rumah kopling, dan v-belt untuk meneruskan tenaga ke roda belakang secara halus tanpa perpindahan gigi manual.
Ketika pengendara membuka gas namun tetap menahan rem, sistem CVT menerima beban dan gaya yang tidak sesuai dengan fungsinya, sehingga kampas ganda dipaksa mencengkeram tanpa bisa bekerja secara optimal.
Gesekan yang terjadi akibat kondisi ini akan menghasilkan panas luar biasa tinggi di dalam ruang transmisi yang tertutup.
Panas berlebih bisa menyebabkan kampas ganda cepat habis atau bahkan mengeras, serta mangkuk kopling yang terbuat dari logam memuai sehingga bentuknya berubah, mengurangi efektivitas cengkeraman dan distribusi tenaga ke roda.
Selain itu, efek panas yang ekstrem juga bisa berdampak pada seal yang berfungsi menjaga oli tetap berada di tempatnya. Seal yang meleleh atau bocor berarti oli bisa merembes ke komponen lain dan menyebabkan slip atau gejala tidak normal lainnya yang akhirnya membuat servis transmisi menjadi tidak murah.
Gejala dan Dampak Buruk Jika Diabaikan
Kebiasaan membuka gas sambil menahan rem di tanjakan hanya mempengaruhi umur komponen, tetapi juga berdampak langsung pada pengalaman berkendara. Salah satu gejala yang muncul adalah motor terasa gredek atau great telah menjadi tidak rata akibat gesekan berlebihan.
Selain itu, pengendara bisa mencium bau hangus atau sangit, tanda panas berlebih di area CVT menjadi sebuah sinyal bahwa komponen sudah bekerja jauh diluar kondisinya.
Bau ini perlu diwaspadai karena sebisa mungkin motor tidak dibiarkan berada dalam kondisi tersebut terlalu lama, sebab dapat memicu merusakan lanjutan yang meramabt ke bagian lain.
Untuk pemilik motor yang sudah mengalami gejala demikian, dianjurkan membawa motor ke bengkel resmi untuk pengecekan secara menyeluruh. Servis CVT yang tepat dengan suku cabang asli membuat memulihkan performa dan mencegah masalah yang berulang di kemudia hari.
Cara Aman Menghadapi Tanjakan
Ketika berhenti di tanjakan, pengendara sebaiknya menutup gas total dan hanya menggunakan rem belakang saja atau gunakan fitur Smart Parking Brake Lock yang ada pada beberapa model motor untuk menahan posisi motor. Ini menghindarkan CVT dari kerja ekstra yang tidak perlu.
Saat bersiap untuk melanjutkan perjalanan, lepas rem sambil memutar gas secara halus dan terkontrol, sehingga sistem CVT dapat mencengkeram secara baik sebelum motor benar-benar bergerak. Pola ini membantu transmisi bekerja dalam kondisi normal tanpa beban berlebihan.
Dengan mengubah kebiasaan berkendara yang sederhana namun efektif ini, pemilik motor matic dapat menjaga umur pakai CVT lebih panjang, meminimalkan biaya servis, dan memastikan pengalaman berkendara yang nyaman serta aman.
Gunakan Cairan Motor Matic Berkualitas
Supaya dapat berkendara aman dan nyaman, pastikan berbagai fluida seperti cairan rem, air radiator, oli matic, dan oli gardan selalu dalam kondisi prima. Ganti cairan sepeda motor matic dengan produk Autochem Industry secara rutin supaya kualitasnya terjaga, khususnya setelah menjadi korban banjir.
Bagi Anda yang menggunakan motor tangguh, disarankan untuk mengganti oli mesin setiap 2.500 – 3.000 km supaya terjaga kualitasnya. Oli MASTER Durability SAE 20W-40 API SL/MB sejatinya dirancang untuk memaksimalkan durabilitasnya.
Dengan SAE 20W yang lebih kental, saat kondisi dingin oli tidak akan menyusup hingga ke ruang bakar. Sementara angka SAE 40 merupakan kebutuhan untuk motor standar Yamaha saat mesin bekerja. Oli tangguh ini sangat cocok untuk penggunaan harian dan kerja berat seperti ojek online yang membutuhkan oli yang tidak mudah berkurang.
MASTER Durability sudah memenuhi standar API Service SL. PT Autochem Industry menyediakan dalam dua varian yaitu 0,8 liter dan 0,9 liter. Volume oli 0,8 liter atau 800 ml direkomendasikan untuk matic bermesin 125 cc. Sedangkan versi 0,9 liter cocok untuk pengguna matic Yamaha 155 series seperti Yamaha NMax 155 dan Yamaha Aerox 155.