Anda mungkin tidak mengenal istilah tailgating meskipun pernah melakukannya di jalan. Mudahnya, tailgating adalah tindakan mengikuti kendaraan di depan dengan jarak terlalu dekat atau 'nempel' tanpa memikirkan lingkungan di sekitar mobil.
Umumnya tailgating atau membuntuti kendaraan lain dilakukan karena pengemudi tidak sabar ingin segera mendahului kendaraan di depan. Anda menempel sangat dekat sekali sambil sesekali menggoyang kendaraan ke kanan mencari momentum untuk menyalip dan mengintimidasi mobil di depan.
Sebab Tailgating Dilakukan
1. Biasa Ngebut di Jalan
Ada banyak alasan mengapa pengemudi 'menempel' ketat kendaraan di depannya. Seperti kendaraan di depan terlalu lambat, sementara Anda adalah pengemudi cepat. Kebiasaan tailgating bagi pengemudi cepat paling susah dihilangkan sebab sudah menjadi karakter.
2. Intimidasi Mobil di Depan
Selanjutnya adalah melakukan intimidasi untuk memancing reaksi kendaraan di depan untuk melaju lebih cepat atau menepikan kendaraannya. Terkadang pula dengan membunyikan klakson atau menyalakan lampu tembak (dim) sebagai isyarat.
3. Tidak Mau Menahan Emosi
Ada pengemudi yang tidak menerima tindakan pengguna jalan lain yang mengejutkan, seperti menyalip tanpa 'permisi' atau terlalu kencang. Bisa juga karena Anda tidak bisa menahan diri melihat kendaraan lain melaju kencang, lalu mengejarnya karena penasaran.
4. Mau Hemat Bensin
Dengan berada sangat dekat di belakang kendaraan lain, Anda yang berada di belakang berharap akan terhindar dari hambatan angin. Langkah ini hanya efektif dilakukan di sirkuit balap yang tidak ada gangguan dari lingkungan sekitar. Di jalan raya, begitu mobil di depan mengerem mendadak, Anda akan celaka.
Meskipun bisa dilakukan, namun tidak disarankan untuk dilakukan karena tidak akan mempengaruhi apa-apa dan justru menimbulkan faktor risiko bahaya yakni kecelakaan. Sejauh ini, tidak ada data yang membuktikan bahwa perilaku tersebut sanggup menghemat bensin.
5. Pengen Dibilang Keren
Kebutuhan membuat konten social media atau dipuji teman, membuat beberapa orang nekat melakukan tailgating. Semakin viral tentu semakin menyenangkan bagi mereka. Padahal, risiko kecelakaan jauh lebih penting ketimbang mencari validasi lewat konten socmed.
Alasan Tailgating Sangat Berbahaya
1. Anda butuh ruang kosong bermanuver untuk berhenti mendadak. Harus ada jarak aman setidaknya dihitung dari kecepatan kendaraan melaju atau rumus 3 detik. Makanya, berkendara nekat dengan cara menempel ketat kendaraan seperti bus sangat dilarang.
2. Anda juga tidak bisa melihat kondisi jalan di depan kendaraan tersebut sehingga tidak dapat mengantisipasi jika ada potensi bahaya. Begitu mereka melakukan hard braking, maka Anda sudah tidak memiliki kesempatan untuk bereaksi.
3. Anda tidak dapat mengetahui perilaku pengemudi di depan. Katakan sopir mengalami microsleep dan tetiba menginjak pedal rem, Anda tidak dapat melakukan apapun. Atau sopirnya melakukan manuver pindah lajur dan Anda tidak sempat mengikutinya, jelas sangat berbahaya.
Jaga Jarak Aman Saat Berkendara
Jarak aman merupakan jarak yang diambil untuk antisipasi kendaraan lain. Sementara, jarak minimal adalah jarak terdekat di masing-masing kendaraan. Sebagai contoh, kecepatan 60 km/jam memiliki jarak aman 60 meter dengan jarak minimal 40 meter.
Atau kecepatan yang sering menjadi patokan kecepatan maksimal di jalan tol yakni 100 km/jam, jarak amannya adalah 100 meter dengan jarak minimal 80 meter. Jarak aman terdiri dari 3 unsur, yakni aman dengan kendaraan di depan, samping, dan di belakang.
Jarak aman dengan kendaraan di depan bertujuan untuk memberi waktu yang cukup agar bisa mengurangi kecepatan, serta mendapat ruang pengereman yang cukup. Jarak aman dengan kendaraan di samping, bermanfaat untuk mengantisipasi kemungkinan kendaraan berubah jalur.
Contohnya, saat keluar dari persimpangan atau mobil keluar dari parkir. Jarak aman dengan kendaraan di belakang berguna untuk menghindar tabrakan dari belakang. Meskipun hal ini merupakan kewajiban utama kendaraan di belakang Anda.
Kondisi untuk Menambah Jarak Aman Antar Kendaraan
Sejatinya, menjaga jarak aman harus selalu dilakukan dalam kondisi apapun. Penting bagi pengemudi untuk menjaga jarak aman antara kendaraan Anda dengan kendaraan di depan, terutama pada saat:
- Hujan turun
- Permukaan jalan licin
- Melewati rute pendakian
- Mengemudikan kendaraan dengan muatan penuh
- Melalui turunan panjang
- Ada keramaian seperti pasar atau sekolah.