TIPS & TRIK
TIPS & TRIK
19-February-2026

MITOS ATAU FAKTA, MENGEMUDI DI JALAN BETON BUTUH SKILL KHUSUS?

Dengan alasan mudah, awet, dan rendah biaya, banyak jalan menggunakan beton atau cor semen. Seperti di jalan tol, perumahan, dalam kota, lingkar luar atau jalan antar kota. Ada alasan mengapa material beton dipilih karena durabilitasnya yang tinggi dibanding bahan aspal.

Secara konstruksi, jalan beton sudah memenuhi syarat supaya dapat dilewati berbagai jenis kendaraan. Tapi patut dicatat, jalan beton memiliki karakter yang berbeda dengan jalan aspal. Pun, pabrikan ban menjadikan permukaan aspal sebagai rujukan utama pengembangan.

Jalan beton memiliki dua jenis garis atau rain groove, yakni lurus dan melintang (cross). Garis air yang membuat telapak ban cepat aus adalah garis cross karena ban seperti diparut oleh permukaan beton. Dampaknya tidak terlalu besar, ban hanya sedikit lebih cepat aus jika dibandingkan di permukaan aspal.

Kendala Mengemudi di Jalan Beton

1. Terasa Kurang Nyaman
Banyak pengemudi menganggap bahwa lewat jalan beton kurang nyaman ketimbang jalan aspal. Salah satu alasannya adalah permukaan jalan beton yang tidak semulus aspal membuat goyangan mobil lebih besar. Ditambah, sambungan antar segmen beton membuat mobil berayun saat melewatinya.

2. Relatif Lebih Bising
Jalan beton memiliki tingkat kebisingan yang tinggi saat dilalui kendaraan, khususnya dengan alur melintang. Perbedaannya sangat terasa ketika Anda melewati jalan tol yang permukaannya berpindah dari aspal ke beton dan sebaliknya.

3. Marka Jalan Kurang Terlihat
Material beton yang berwarna lebih terang dari aspal membuat marka jalan sulit terlihat karena kurang kontras. Situasi akan makin sulit waktu harus berkendara di tengah hujan dan garisnya mulai pudar. Alhasil, banyak potensi masalah andai Anda tidak hati-hati.

4. Anggapan Jalan Beton Lebih Panas
Ada pula anggapan jalan beton lebih panas ketimbang jalan aspal. Tapi pada kenyataannya, baik jalan aspal maupun jalan beton sama-sama menyimpan panas di tengah cuaca siang hari yang terik. Artinya, urusan keamanan berkendara merupakan tanggungjawab Anda.

5. Daya Rem Kurang Optimal
Ban mobil diciptakan agar dapat melaju dengan baik di jalan dengan permukaan aspal. Sehingga, daya cengkeramnya tetap maksimal, baik saat akselerasi maupun pengereman. Beda dengan permukaan beton yang tidak memiliki ‘gigitan’ sebaik aspal, daya pengereman mobil akan menurun.

Mengemudi Aman dan Nyaman di Jalan Beton

1. Fokus dan Jaga Jarak Aman
Mempertimbangkan kendala di atas, Anda harus lebih fokus dalam melihat marka jalan dan menjaga jarak aman dengan kendaraan di depan. Gunakan jarak minimal 3 detik dengan kendaraan yang ada di depan untuk mengantisipasi potensi masalah. Jarak ditambah hingga 5-6 detik kalau ternyata hujan turun.

2. Kurangi Kecepatan Saat Hujan Turun
Begitu hujan turun, segera kurangi kecepatan untuk menjaga fokus berkendara dan ban mobil tidak kehilangan daya cengkeram ke jalan. Meskipun bukan aspal, tetap ada potensi aquaplaning kalau mobil melewati genangan air.

3. Terapkan Safety Driving
Meskipun diyakini lebih mengikis permukaan ban, tapi ada anggapan pula bahwa traksi ban di jalan beton tidak sebaik jalan aspal. Untuk amannya, melajulah dengan aman dan hindari pindah lajur seenaknya. Dengan begitu, keamanan berkendara di jalan turut terjaga.

4. Istirahatkan Mobil di Rest Area
Jika mengemudi sendiri, pastikan untuk istirahat minimal 30 menit setelah mengemudi selama 2 jam. Rest area menjadi pilihan yang tepat. Sembari itu, Anda juga dapat mengistirahatkan komponen penting seperti ban dan rem yang bekerja keras di jalan beton.

5. Cek Kondisi Ban Mobil
Pastikan Anda telah melakukan servis berkala di bengkel resmi atau langganan. Mereka akan mengecek kondisi kendaraan untuk memastikannya siap dibawa bermobilitas, termasuk ban dan rem. Sehingga, apapun jenis jalan yang akan dilalui bukanlah masalah besar.

Gunakan Prestone Brake Fluid DOT 4 Untuk Sistem Rem Mobil Listrik
Prestone adalah cairan rem yang memberikan kinerja optimal dalam sistem pengereman mobil listrik. Formula khusus membuat gejala vapor lock dapat dicegah saat rem bekerja keras dan titik didihnya tidak mudah turun akibat oksidasi, guna mencegah rem gagal berfungsi. 

Bermodalkan hasil riset yang panjang di Indonesia, Prestone Brake Fluid sanggup menjaga kadar air dalam batas aman. Sebelum dipasarkan, cairan rem ini telah melewati tahapan quality control, di antaranya adalah pengujian kadar air di laboratorium milik PT Autochem Industry (AI). 

Diproduksi untuk wilayah tropis, cairan rem berkualitas ini memiliki kadar air di bawah ambang batas yang ditetapkan oleh Standar Nasional Indonesia (SNI) yakni 0,3%. Bahkan, penurunan performa akibat iklim tropis yang mencapai kelembapan hingga 80% pada produk Prestone yang masih tersegel pun tidak terjadi. 

Cairan rem Prestone diyakini tahan lebih lama dan memberikan nilai keselamatan yang lebih tinggi karena formula sintetis yang sesuai kebutuhan kendaraan listrik di sini. Prestone turut memberikan perlindungan korosi untuk semua logam dalam sistem rem, cocok untuk rem cakram dan tromol, serta bersinergi dengan fitur-fitur penting seperti ABS dan regenerative brake system.
 

Gatot Subroto KM 7 Jatake, Jati Uwung Tangerang, Banten 15136
+62(21)5900131
Sales[at]autochemindustry.com
Unicall 0-807-1-799-799

© Autochem Industry 2026. Maintained by kreasimaya. Hak cipta dilindungi oleh undang-undang.